Senin, 08 Agustus 2011

Biometan hasil pemurnian Biogas dari bahan sampah dan Tinja sebagai sumber Energi dan Pupuk Organik

Lebih dari 20.000 pondok pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan masing-masing memiliki ribuan santri, dapat berperan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan upaya pemanfaatan sumber energi alternatif sekaligus menjaga sanitasi lingkungan. Dalam banyak hal, pesantren menjadi referensi sikap dan perbuatan bagi sebagian besar masyarakat, terutama di pedesaan.  

Besarnya populasi manusia di suatu komplek terkonsolidasi sebagaimana suatu pesantren tentu menghasilkan limbah dan sampah, termasuk juga limbah individual manusia yakni kotoran manusia (tinja). Tanpa pengelolaan secara baik, limbah dengan aneka jenis timbulan sampah ini akan memberikan masalah pada memburuknya sanitasi lingkungan. Itu pula yang selama ini seolah menjadi ikon kalau pesantren identik dengan kondisi kumuh, kotor dan yang kemudian melahirkan berbagai cap buruk pada pesantren. Padahal, berkat berkembangnya ilmu mikrobiologi, motor bakar, elektronik dan kimia, kini telah memberikan solusi bagi masalah buruknya liingkungan dengan merobah limbah, sampah dan kotoran manusia (feces) sebagai sumber energi baru terbarukan.   

Pemanfaatan energi dari hasil pengolahan kotoran manusia, sampah, biomassa, maupun kotoran hewan bagi masyarakat di lingkungan pondok pesantren sangat strategis bagi upaya mengembangkan desa mandiri energi dan pupuk melalui kepeloporan lembaga pendidikan pesantren. Walaupun, dilain pihak, disadari masih terkendala adanya pemahaman fiqh benda najis dan mutanajjis bagi beberapa ulama pengasuh pesantren,. berbagai forum Bahtsul Masa'Il  sering diadakan khusus guna menjawab masalah gas yang dihasilkan dari bahan-bahan najis (tinja). .

Pondok Pesantren Riyadlul Ulum di Condong Cibeureum Tasikmalaya adalah salah satu pondok dengan jumlah santri lebih dari 2500 orang, sebuah angka yang "cukup" untuk memproduksi biogas dari tinja, sampah sisa makanan, serasah halaman dan biomassa lainnya yang terdapat di lingkungan pesantren seluas 5 Ha sekitar 125 m3 biogas per hari.
Dalam kaitan kepentingan membuat percontohan pengolahan tinja menjadi energi listrik dan pupuk, serta sebagai kegiatan rintisan karena masih terbatasnya dana, baru disiapkan instalasi guna mengolah tinja dan sampah dengan Biogas Digester BD 3000L berkapasitas 3000 liter/ hari, yang dengan itu diharapkan membangkitkan sekurangnya 4,6 m3 biometan/hari. Besaran 4,6 m3/hari gas metan sebagai hasil pemurnian biogas, akan cukup memberikan daya nyala kompor yang setara dengan 2 kg gas elpiji (LPG) atau berkemampuan menyalakan genset pembangkit listrik 1000 Watt selama 4 jam terus mnenerus.

Biogas hasil fermentasi anaerobik dengan bakteri metagenesis GP-7 ini, yang kemudian dimurnikan dengan methane purifier 12135 ini akan menghasilkan komposisi metan (CH4) tinggi > 70%, yang dengan kualitas itu bisa dijadikan bahan bakar bagi kompor masak memasak di dapur secara stabil dan juga dijadikan bahan bakar menggerakkan generator atau mengganti BBM premium. 

Perolehan hasil listrik dari biogas murni (mendekati kandungan CH4 100 %) bisa menggerakkan genset Bio Elektrik 1000 watt secara terus menerus selama 4 hingga 5 jam atau setara dengan 5 KWH (kilo watt hour). Ketika digunakan pada kompor, biogas murni sebanyak itu bisa menyalakan kompor lebih dari 7 jam.
Lumpur (sludge) yang keluar dari output chamber digester digunakan sebagai pupuk kolam, menghidupkan jasad renik dan plankton, sebagai pakan alami terbaik bagi ikan. Dan, makanan ikan pun, kini, bukan lagi material kuning seperti sebelumnya, melainkan plankton. Rasa ikan dari kolam jadi enak dan higienis, dapat dimasak dengan gas kompor gratis, membuat belajar santri yang diterangi listrik lebih khu'su, dan lingkungan pun memiliki sanitasi sesuai standar kesehatan. Biometan hasil pemurnian Biogas dari bahan sampah dan Tinja sebagai sumber Energi dan Pupuk Organik+)
Poskan Komentar

Pengikut